Vision

9 Oct

Oleh: Agus Prasetya

Apa jadinya jika sebuah pertandingan sepakbola berlangsung tanpa gawang? Pasti akan menarik sekali, tetapi bukan menarik untuk dilihat melainkan menarik keributan dan kekacauan. Bisa jadi permainan akan terhenti dan kalaupun berlanjut tentu akan berlangsung tanpa arah yang jelas. Ketika ada seorang pemain yang memegang bola, ia akan bingung akan dibawa kemana bola yang ia pegang. Akhirnya permainan tentu akan menjadi kacau tanpa tujuan dan arah yang jelas. Begitu juga dengan kehidupan, ketika kita tidak memiliki gawang (target pencapaian/visi) maka kehidupan akan mencadi kacau bahkan bisa berhenti tanpa perkembangan apapun. Untuk itu, jika sampai saat ini kita masih belum memiliki gawang yang jelas maka sudah seharusnya kita mencari atau kalau tidak menemukan maka kita harus menciptakannya.

Jika hidup ibarat sebuah perjalanan maka kita harus segera menentukan tujuan perjalanan kita. Kita perlu menentukan ditempat-tempat manakah kita akan singgah. Selain itu kita juga harus menentukan rute untuk mencapai tempat persinggahan tersebut. Jangan sampai kita menjalani kehidupan seperti pengembara yang tidak menentu arah dan tujuannya. Tujuan harus ditentukan, rute harus segera dipahami dan perjalanan harus diarahkan menuju tujuan tersebut. Jangan sampai kehidupan ini mengalir begitu saja dan akhirnya kita akan dikendalikan oleh keadaan. Allah SWT telah memberikan segenap potensi untuk menjalani kehidupan. Akan kita arahkan kemana potensi yang diberikan oleh Allah SWT tergantung dari visi yang telah kita susun. Semakin jelas visi kita maka akan semakin mudah bagi kita untuk memfokuskan pencapaian visi tersebut.

Seringkali sebuah visi sulit untuk dicapai karena visi tersebut kurang jelas dan spesifik. Maka dari itu untuk mencapai visi dalam hidup kita harus ada penjabaran visi secara spesifik dan jelas. Termasuk jelas waktunya dan jelas pula cara mencapai visi tersebut. Visi yang dimaksud bukan hanya visi dunia, akan tetapi juga visi akhirat kita. Sebagai seorang muslim maka visi Akhirat kita pastilah sama yaitu ingin mendapatkan Surga yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Disamping itu kita tentu ingat dengan do’a kita untuk mendapat kebaikan baik di akhirat maupun di dunia. Oleh karena itu untuk mencapai kebaikan di dunia maka kita juga perlu memiliki visi dunia. Bisa jadi visi dunia ini akan berbeda-beda untuk masing-masing orang. Akan tetapi apapun visi kita di dunia yang penting jangan sampai visi dunia berseberangan apalagi sampai bertentangan dengan visi di akhirat. Sebab apapun yang terjadi, kita pasti akan mengalami kehidupan di akhirat. Tidak ada gunanya kita sukses mencapai visi dunia namun gagal dalam mencapai visi di akhirat.

Visi dunia yang kita rancang harus mencakup visi keuangan, visi keluarga, visi pendidikan dan ilmu pengetahuan, visi karier, dll. Semua visi tersebut harus memiliki sebuah alasan kuat yang mampu menjawab sebuah pertanyaan “mengapa visi tersebut harus saya capai? dan apa akibatnya jika tidak saya capai?” dengan adanya sebuah alasan kuat untuk mencapai visi tersebut maka kita akan tetap memiliki semangat untuk mencapainya. Jika tidak ada alasan kuat untuk mencapainya maka biasanya akan sulit untuk mempertahankan motivasi guna mencapai visi kita. Alasan kuat ini harus benar-benar kita resapi dan kita tanamkan dalam diri kita agar motivasi kita tetap bisa bertahan dalam jangkak waktu yang lama.

Kita barangkali pernah mendengar ada orang yang mengatakan “visi saya adalah ingin berguna bagi nusa dan bangsa”. Ini adalah visi orang yang sedang bingung, sebab tidak jelas dan spesifik sehingga akan menyulitkan kita untuk mencapainya. Menjadi dokter tentu berguna, menjadi kuli juga berguna, menjadi supir juga berguna. Maka dari itu, jika kita mengatakan ingin berguna bagi nusa dan bangsa maka hal itu masih sulit untuk digambarkan secara jelas. Ibarat kita melakukan sebuah perjalanan maka harus menentukan alamatnya secara detail, termasuk nama jalan dan nomornya, bukan hanya sekedar nama kotanya saja. Hal ini agar memudahkan kita mencapai tujuan tersebut. Contoh lain misalnya kita sering mendengar ada yang mengatakan ingin menjadi orang kaya. Hal ini sebenarnya juga kurang spesifik, sebab kriteria kaya setiap orang berbeda-beda. Maka, kaya yang dimaksud harus dijabarkan secara spesifik. Orang bisa beli sepeda motor bisa jadi akan dikatakan orang kaya dibandingkan orang yang tidak punya sepeda motor. Tapi orang yang punya sepeda motor bisa juga dikatakan miskin jika dibandingkan dengan orang yang punya mobil mewah. Jadi, apapun visi kita harus dijabarkan secara jelas termasuk juga kapan visi tersebut akan dicapai. Kita tidak akan bisa mencapai apa yang kita inginkan sebelum kita benar-benar tahu apa yang benar-benar kita inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>