Seni Komunikasi Efektif (1)

27 Aug

Oleh : Agus Prasetya

Komunikasi merupakan bagian penting dalam proses kehidupan manusia. Banyak hal yang bisa diperoleh melalui komunikasi, dan banyak pula masalah yang timbul karena komunikasi yang kurang tepat. Seringkali kita mengalami berbagai masalah yang sebenarnya bersumber pada komunikasi yang kurang tepat. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mempelajari pola-pola komunikasi yang efektif sehingga kita bisa terhindar dari berbagai masalah. Selain itu dengan komunikasi yang efektif, kita bisa mempengaruhi bahkan menggerakkan orang lain.

Prinsip komunikasi efektif yang pertama dan utama adalah membangun kesan pertama. Kita harus ingat bahwa kesan pertama akan menentukan kesan berikutnya. Secara bawah sadar, manusia akan merespon lawan bicaranya secara otomatis. Sehingga, jika pikiran bawah sadar menangkap kesan pertama yang buruk maka kesan berikutnya menjadi buruk. Kesan pertama diperoleh melalui penginderaan visual. Oleh sebab itu dalam berkomunikasi maka penampilan kita harus sesuai dan meyakinkan. Jika anda akan berbicara soal ilmu agama maka berpakaianlah layaknya seseorang yang mengerti agama. Jangan sampai anda bicara tentang ilmu agama namun anda pakai kaos oblong dan jeans bolong, kecuali yang anda ajak bicara sudah mengenal betul kalau anda seorang ustadz yang berilmu tinggi. Jika lawan bicara anda masih belum kenal betul siapa anda dan anda bicara soal agama dengan pakaian seperti itu, anda bisa-bisa dianggap orang gila. Intinya berpenampilanlah sesuai dengan persepsi yang anda harapkan.

Prinsip berikutnya , hindari resistensi di awal. Jangan sampai anda menunjukkan adanya perbedaan mencolok apalagi pertentangan antara anda dan lawan bicara anda di awal pembicaraan. Orang akan cenderung merasa nyaman dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengannya. Jadi, meskipun kesan pertama itu penting, namun jangan sampai karena ingin kesan pertama yang bagus anda justru melupakan prinsip “menghindari resistensi”. Dengan kata lain , jangan sampai kesan pertama anda justru membuat lawan bicara anda menjadi tidak nyaman. Maka sudah selayaknya anda memahami dengan siapa anda akan bicara. Misalnya ketika saya menyampaikan training motivasi biasanya selalu memakai pakaian formal bahkan terkadang lengkap dengan setelan jas dan dasi. Ini adalah untuk membangun kesan bahwa saya profesional. Namun saat audience saya remaja mantan pecandu narkoba maka saya ubah penampilan saya dengan memakai kaos. Mengapa?? ini tidak lain adalah untuk memperkecil resistensi agar saya lebih mudah diterima oleh mereka dan sugesti-sugesti saya lebih mudah masuk ke pikiran mereka. Saat saya memakai stelan jas berdasi, maka kemungkinan besar mereka akan menganggap saya sebagai manusia yang berbeda jauh dengan mereka, saya dianggap memiliki kehidupan yang berbeda dan “alam” yang berbeda dengan mereka.

Kesan pertama berkaitan dengan “Apa” yang akan kita bicarakan. Sedangkan menghindari resistensi adalah berkaitan dengan “siapa” lawan bicara kita. Kedua hal ini harus kita padukan dengan indah. Maka komunikasi sesungguhnya adalah sebuah seni (art) yang dipadu dengan pengetahuan (knowledge). Bagaimana kita melatihnya?? “Action” , itulah cara terbaik melatihnya. Pembahasan kita kali ini sebenarnya masih pada aspek non verbal. Bagaimana dengan aspek verbal??? Semoga bisa kita lanjutkan di artikel berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>