Landasan Motivasi Spiritual: Who am I (Menemukan Jati Diri)

2 Jan

Oleh : Agus Prasetya

Setelah bertahun-tahun kita hidup di dunia ini, namun pernahkah kita sedikit merenung tentang hakikat diri kita. Beruntunglah bagi yang sudah namun bagi yang belum marilah kita segera beregerak cepat untuk menyelami hakikat kehidupan untuk menemukan jati diri. Karena jika kita tidak segera cepat-cepat menemukan jati diri kita maka kita hanya akan terombang ambing ditengah gelombang kehidupan, tanpa tujuan, dan akhirnya terdampar di pulau kesengsaraan.

Untuk menemukan jati diri, maka kita harus mejawab tiga pertanyaan mendasar dalam hidup. Yaitu (1) “Dari mana aku berasal?” (2) “Untuk apa aku hidup ?”  (3) “Akan kemana aku setelah mati?”. Tiga pertanyaan ini haruslah kita jawab mantap dengan segala ketulusan, keikhlasan, tanpa prasangka, dan tanpa berfilsafat.

Baiklah, kini saatnya kita menjawab tiga pertanyaan tersebut dari perspektif yang benar dan meyakinkan ( sahih ). (1) “Dari mana aku berasal?” pencermatan yang sungguh-sungguh akan mengantarkan kita pada fakta bahwa asal muasal manusia diciptakan oleh Allah SWT. Sangat mustahil jika manusia dengan beribu kesempurnaan dan kehebatannya terbentuk dengan sendirinya, bukankah selembar kertas saja ada pabrik yang membuatnya. Kenyataan ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-baqarah : 21 yang terjemahannya sebagai berikut : “Wahai manusia ! sembahlah tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa “. (2) “Untuk apa aku hidup ?”  sang pencipta manusia yaitu Allah SWT telah memberikan jawaban tegas atas pertanyaan ini, jadi manusia tidak perlu repot-repot mencari jawabannya apalagi harus bersusah payah dengan berfilsafat yang malah akan membuat kita bingung. Allah SWT dengan jelas dan tegas menjawab pertanyaan ini melalui QS. Adz-Dzaariyat : 56 yang terjemahannya sebagai berikut : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Jadi tugas hidup kita tidak lain dan tidak bukan adalah beribadah kepada Allah SWT. Hal ini berarti segala aktivitas kita harus terikat dengan aturan Allah SWT, tanpa terkecuali baik dalam urusan kerohanian, maupun urusan sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dll. (3) “Akan kemana aku setelah mati?”. Karena kita berasal dari Allah SWT maka tentunya setelah mati kita akan kembali kepada Allah SWT, sesuai dengan Surat Al baqarah ayat 156 yang artinya:…Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” Berdasarkan keterangan dari Kalamullah (Al-Qur’an) dan sunah rasul maka setelah mati kita akan menjalani serangkaian peristiwa yang pada akhirnya akan diputuskan untuk berada di surga atau neraka. Hal ini di dasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya adalah: QS. Al- Mu’minun :15-16, QS. Al-Qiyaamah:3-4, QS. Az-Zalzalah :6-8, QS. Yaasiin : 51-52, QS. Al-Qaari’ah :6-9, Dll.

Kesimpulannya manusia diciptakan oleh Allah SWT, Hidup untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan akan kembali kepada Allah SWT, itulah jati diri manusia yang sesungguhnya. Saat ini kita berusaha keras dengan segenap waktu dan kemampuan untuk mempersiapkan masa depan di dunia yang belum pasti kedatangannya (sebab kita tidak tahu kapan hidup ini akan berakhir). Akan Tetapi pertanyaaannya adalah seberapa besar persiapan kita untuk kembali kepada Allah SWT yang jelas-jelas pasti akan terjadi ? seberapa besar persiapan kita agar bisa terhindar dari siksaan Allah SWT ? padahal tidak ada jaminan bahwa kita masih akan hidup hingga esok hari. Kita tidak salah jika saat ini berusaha keras untuk meraih kenikmatan dunia, akan tetapi menjadi salah jika kita sampai melupakan akhirat. Padahal mestinya Akhirat lah yang harusnya kita kejar, namun dengan tetap tidak melupakan kebahagiaan kita di dunia. Tapi, seringkali kita begitu serius dengan urusan dunia yang hanya sementara namun sering lupa dengan urusan akhirat yang abadi selama-lamanya. Semoga ini bisa menjadi renungan untuk kita semua. Wallahu a’lam bi Shawab.

Referensi :

Buku : BE THE BEST “ NOT BE ASA” (2007) Karya : M. Karebet Widjajakusuma (Trainer manajemen dan motivasi)
share
Social Bookmarking

One thought on “Landasan Motivasi Spiritual: Who am I (Menemukan Jati Diri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>